Sabtu, 12 Mei 2012

Asal dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Asal Usul Bahasa Indonesia ;
  Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Austronesia. Rumpun bahasa Austronesia adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di Dunia. Bahasa Austronesia proto atau purba digunakan berasal dari daerah yang sekarang disebut Tiongkok Bagian Selatan, sekitar 5.000 tahun yang lalu.
Rumpun bahasa Austronesia di bagi menjadi beberapa kelompok. Dua kelompok pertama ialah bahasa Taiwanik dan bahasa Melayu Polinesia, kemudian rumpun bahasa Melayu Polinesia dibagi menjadi bahasa-bahasa Melayu Polinesia Barat, Tengah dan Timur.
    Bahasa Melayu Polinesua, Barat dan Timur memili cabang-cabang tersendiri. Salah satu cabang terpenting dari silsilah ini adalah cabang Sundik, yang menurunkan bahasa-bahasa Austronesia dengan jumlah penutur terbesar yaitu : bahasa Jawa, bahasa Melayu (dan bahasa Indonesia), bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Aceh, bahasa Batak dan bahasa Bali.
Adapun jumlah penutur bahasa Austronesia sekitar 350 juta jiwa. Bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa Jawa, bahasa Melayu (dan bahasa Indonesia), bahasa Minang Kabau, bahasa Tagalog, bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Bali, bahasa Aceh, bahasa Batak dan bahasa Malagasi.
Bahasa Resmi Indonesia ;
    Di Indonesia, bahasa resmi ini disebut sebagai bahasa Indonesia.

Fase-Fase ;
Bahasa Melayu Kuno
   Bahasa Melayu Kuno merupakan keluarga bahasa Nusantara. Bahasa Melayu Kuno mencapai abad kegemilangannya dari abad ke-7 hingga abad ke-13 pada zaman Kerajaan Sriwijaya, sebagai lingua franca dan bahasa resmi. Bahasa Melayu Kuno menjadi lingua franca dan sebagai bahasa resmi, karena :
1.    Bersifat sederhana dan mudah menerima pengaruh dari luar.
2.    Tidak terikat pada perbedaan susunan lapisan Masyarakat.
3.    Memiliki sistem yang lebih mudah berbanding dengan bahasa jawa.
4.    Banyak dipengaruhi oleh sistem bahasa Sangsekerta.
Bahasa Melayu mudah dipengaruhi oleh bahasa Sangsekerta karena :
1.    Pengaruh agama Hindu.
2.    Bahasa Sangskerta terletak dalam kelas bangsawan, dan dikatakan memiliki hierarki yang tinggi.
3.    Sifat bahasa Melayu yang mudah dilentur mengikuti keadaan dan keperluan.
Bahasa Melayu Kuno dapat kita jumpai pada batu-batu bersurat abad VII yang ditulis huruf pallawa (huruf pallo) :
1.    Prasasti di Kedukan Bukit, Palembang (638 M.)
2.    Prasasti di Talang Ruwo, dekat Palembang (684 M.)
3.    Prasasti di Kota Kampur, Pulau Bangka (686 M.)
4.    Prasasti di Karang Brahi, Meringin, daerah Hulu Jambi (686 M.)
5.    Bahasa Melayu Kuno di Gandasuli, Jawa Tengah (832 M.) ditulis dalam aksara Nagari.
Cirri- Ciri Bahasa Melayu Kuno :
1.    Penuh dengan kata pinjaman dari bahasa Sangsekerta.
2.    Susunan kalimat bersifat Melayu.
3.    Bunyi (b) ialah (w) dalam Melayu Kuno.
4.    Bunyi (e) pepet tidak wujud.
5.    Awalan (ber) ialah (mar) dalam Melayu Kuno.
6.    Awalan (di) ialah (ni) dalam Melayu Kuno.
7.    Ada bunyi konsonan yang diaspirasikan seperti bh, ch, th, ph, dh, kh, h.
8.    Huruf (h) intervokalik hilang dalam bahasa modern.

Fase kedua ialah :
Bahasa Melayu Klaksi
    Bahasa Melayu Kuno digantikan dengan bahasa Melayu Kelasik, perihal ini dikaitkan dengan pengaruh agama Islam yang semakin mantap di Asia Tenggara pada abad XIII. Setelah itu, bahasa Melayu banyak perubahan dari segi kosakata, struktur kalimat, dan tulisan.
Terdapat tiga prasasti yang penting :
1.    Prasasti di Pagar Ruyung, Minangkabau, ditulis dalah huruf India mengandung prosa Melayu Kuno dan beberapa baris sajak Sangsekerta. Bahasanya sedikit berbeda dengan bahasa batu yang bertuliskan abad VII.
2.    Prasasti di Minye Tujuh, Scheh, masih memakai abjad India buat pertama kalinya terdapat penggunaan kata-kata Arab seperti kata Nabi, Allah dan Rahmat.
3.    Prasasti di Kuala Berang, Terengganun, ditulis dalam huruf Arab Melayu.
Ketiga prasasti ini merupakan bukti catatan terakhir perkembangan bahasa Melayu karena, setelah abad XIV, muncul kesastraan Melayu dalam bentuk tulisan.
Adapun ciri-ciri bahasa Melayu Kelasik :
1.    Kalimatnya : panjang, berulang, berbelit-belit.
2.    Banyak kalimat pasif.
3.    Menggunakan bahasa istana.
4.    Kosakata klasik.
5.    Banyak menggunakan perdu perkataan (kata pangkal ayat.)
6.    Kalimat sungsang
7.    Banyak menggunakan akhiran pun dan lah.

Fase ketiga ialah :
Bahasa Melayu Modern
    Bermula pada abad XIX, hasil karangan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dianggap sebagai permulaan zaman bahasa Melayu Modern. Sebelum penjajah Inggris, bahasa Melayu mencapai kedudukan yang tinggi, berfungsi sebagai bahasa perantaraan, pentadbiran, kesusastraan, dan bahasa pengantar di pusat pendidikan Islam.
Di Indonesia, basa resminya adalah bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Republik Indonesia, namun hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakanya sebagai bahasa ibu. Bahasa Indonesia adalah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia.
Fonologi dan tatabahasa dari bahasa Indonesia cukup mudah. Dasar-dasar yang penting untuk berkomunikasi dapat dipelajari dalam kurun waktu beberapa minggu. Dewasa ini bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan  sebagai bahasa pengantar di sekol-sekolah di seluruh Indonesia.
Bahasa Indonesi dikembangkan dari satu dialek bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di kepulauan Hindia (Indonesia) selama berabad-abad.
Penciptaan bahasa Indonesia sebagi jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928 M.) di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pasca kemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri (Jawa) yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu, namun memilih bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu yang diturunkan di Riau. Dengan tujuan Persatuan dan Kebangsaan.

Fase ketiga ialah :
Penyempurnaan Ejaan
    Mulanya bahasa Indonesia ditulis dengan tulisan Latin Romawi mengikuti Ejaan Belanda, hingga tahun 1927 ketika Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dicanagkan. Dengan EYD, ejaan dua bahasa, yaitu bahasa Melayu dan Malaysia dibakukan.
Ciri-Ciri dari bahasa Indonesia Kontemporer adalah adanya penggunaan akronim dan singkatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar